Pencegahan HIV dari Ibu ke Janin

Pencegahan HIV dari Ibu ke Janin

 

Bagaimana Pencegahan HIV dari ibu ke janin ? HIV adalah virus penyebab AIDS, yang dapat menular dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya yang baru lahir. Menurut WHO, sampai 30% bayi lahir dari ibu yang terinfeksi HIV akan tertular HIV kalau ibunya tidak memakai terapi antiretroviral (ART). Bila ibu terinfeksi HIV menyusui bayi, risiko keseluruhan naik menjadi 35-50%.

Pencegahan HIV dari Ibu ke Janin

Pencegahan HIV dari Ibu ke Janin

Ibu dengan viral load HIV yang tinggi lebih mungkin menularkan infeksi pada bayinya. Kebanyakan ahli menganggap bahwa risiko penularan pada bayi sangat amat rendah bila viral load ibu di bawah 1000 waktu melahirkan. Walaupun janin dalam kandungan dapat terinfeksi, sebagian besar penularan terjadi dalam proses melahirkan. Bayi lebih mungkin tertular jika persalinan berlanjut lama. Selama persalinan, bayi dalam keadaan berisiko tertular oleh darah ibunya.

Pencegahan HIV dari Ibu ke Janin

Menurut WHO terdapat 4 langkah/cara pencegahan HIV dari ibu ke janin yang perlu diupayakan untuk mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu ke janin, meliputi:

  1. Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia reproduksi

Untuk menghindari penularan HIV digunakan konsep ABCD yang terdiri dari:

  • A (Abstinence): Absen seks atau tidak melakukan hubungan seksual bagi orang yang belum menikah.
  • B (Be faithful): Bersikap saling setia kepada satu pasangan seks (tidak berganti-ganti)
  • C (Condom): Cegah dengan kondom. Kondom harus dipakai oleh pasangan apabila salah satu atau keduanya diketahui terinfeksi HIV
  • D (Drug No): Dilarang menggunakan napza, terutama napza suntik dengan jarum bekas secara bergantian.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam upaya pencegahan HIV dari ibu ke janin primer antara lain:

  • Meningkatkan kesadaran perempuan tentang bagaimana cara menghindari penularan HIV dan IMS
  • Menjelaskan manfaat dari konseling dan tes HIV secara sukarela
  • Mempelajari tentang pengurangan risiko penularan HIV dan IMS (termasuk penggunaan kondom)
  • Bagaimana bernegosiasi seks aman (penggunaan kondom) dengan pasangan
  • Melibatkan petugas lapangan (kader PKK, bidan, dan lainnya ) untuk memberikan informasi pencegahan HIV dan IMS kepada masyarakat dan untuk membantu klien mendapatkan akses layanan kesehatan. Pencegahan HIV dari ibu ke Janin
  • Konseling untuk perempuan HIV negatif.
  • Membuat layanan kesehatan ibu dan anak yang bersahabat untuk pria sehingga mudah diakses oleh suami / pasangan ibu hamil. Pencegahan HIV dari ibu ke Janin
  • Mengadakan kegiatan “kunjungan pasangan” pada kunjungan ke layanan kesehatan ibu dan anak.
  1. Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif

Pemberian alat kontrasepsi yang aman dan efektif serta konseling yang berkualitas akan membantu Odha dalam melakukan seks yang aman, mempertimbangkan jumlah anak yang dilahirkannya, serta menghindari lahirnya anak yang terinfeksi HIV.

Untuk mencegah kehamilan alat kontrasepsi yang dianjurkan adalah kondom, karena bersifat proteksi ganda. Kontrasepsi oral dan kontrasepsi hormon jangka panjang (suntik dan implan) bukan kontraindikasi pada Odha. Pencegahan HIV dari ibu ke Janin

Pemakaian AKDR tidak dianjurkan karena bisa menyebabkan infeksi asenderen. Spons dan diafragma kurang efektif untuk mencegah terjadinya kehamilan maupun penularan HIV. Jika ibu HIV positif tetap ingin memiliki anak, WHO menganjurkan jarak antar kelahiran minimal 2 tahun. Pencegahan HIV dari ibu ke Janin

  1. Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu HIV positif kepada bayi yang dikandungnya

Merupakan inti dari intervensi PMTCT. Bentuk intervensi berupa:

  • Pelayanan kesehatan ibu dan anak yang komprehensif.
  • Layanan konseling dan tes HIV secara sukarela (VCT).
  • Pemberian obat antiretrovirus (ARV). Pencegahan HIV dari ibu ke Janin
  • Konseling tentang HIV dan makanan bayi, serta pemberian makanan bayi.
  • Persalinan yang aman. Pencegahan HIV dari ibu ke Janin
  1. Memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu HIV positif, beserta bayi dan keluarganya.

Upaya PMTCT tidak terhenti setelah ibu melahirkan. Karena ibu tersebut terus menjalani hidup dengan HIV di tubuhnya, maka membutuhkan dukungan psikologis, sosial dan perawatan sepanjang waktu. Jika bayi dari ibu tersebut tidak terinfeksi HIV, tetap perlu dipikirkan tentang masa depannya, karena kemungkinan tidak lama lagi akan menjadi yatim dan piatu. Sedangkan bila bayi terinfeksi HIV, perlu mendapatkan pengobatan ARV seperti Odha lainnya. Pencegahan HIV dari ibu ke Janin

Dengan dukungan psikososial yang baik, ibu HIV positif akan bersikap optimis dan bersemangat mengisi kehidupannya. Diharapkan ia akan bertindak bijak dan positif untuk senantiasa menjaga kesehatan diri dan anaknya, dan berperilaku sehat agar tidak terjadi penularan HIV dari dirinya ke orang lain. Pencegahan HIV dari ibu ke Janin

Informasi tentang adanya layanan dukungan psikososial untuk Odha ini perlu diketahui masyarakat luas. Diharapkan informasi ini bisa meningkatkan minat mereka yang merasa berisiko tertular HIV untuk mengikuti konseling dan tes HIV agar mengetahui status HIV mereka sedini mungkin.

Pencegahan HIV dari Ibu ke Janin

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*